Buat foto2nya, liat aja ke
sini.
Tadinya ga ada niat buat kesitu....

Awalnya dikasih tau Ian kalo ada acara
cosplay juga disitu, tapi aku rada ogah2an juga mau kesana, karena selain sibuk dengan tugas kuliah, aku juga tidak tahu format acaranya seperti apa.
Baru pas dibilangin sama Diki bahwa ada pemutaran film2 independen yang gokil2, baru deh penasaran.
Akhirnya berdua dengan Gindo, setelah melalui jalanan yang macet dari Pasar Minggu ke Pancoran, sempat nyasar ke Komdak (gara2 busnya lewat tol), sampai juga di acara ini

.
Pas baru sampai, aku langsung muter2 liat
toys exhibiton, yah jangan berharap ada barang2 bagus. Palingan aku menemukan majalah Henshin bekas nomor 3 yang kebetulan membahas
heroines, kebetulan lagi suka banget sama Cutie Honey. Abis itu aku langsung masuk ke dalam ruangan pertunjukan, liat
cosplay. Lumayan banyak yang bagus2, aku terhibur dengan beberapa penampilan yang gila2an, bahkan mempertunjukkan hal2 yang secara konvensi memahami penontonnya. Contohnya pas yang
cosplay jadi cowok2nya game Final Fantasy, konvensi yang dipakai benar2 game RPG, lengkap dengan posisi
turn based dan gaya
victory segala

.
Aku tidak menyimak seluruh pertunjukannya, karena aku pergi ke mesjid buat shalat Ashar sambil menunggu Maghrib. Abis itu baru deh kembali lagi ke ruang pertunjukan yang kali ini masuk sambil berdesak2an. Tapi sebelumnya, sempat juga foto2 sih walau cuma sedikit gara2 kelupaan
charge batere henpon

.
Lalu soal film2 yang diputar, kebanyakan benar2 gokil abis, sangat gokil sampai aku tidak bisa mengontrol suara ini karena terlalu tertawa. Tapi ada juga yang jelek dan absurd sehingga tidak selayaknya diputar, tapi secara keseluruhan benar2 segar dan menghibur. Sayangnya, yang kujagokan tidak menang. Bahkan aku sangat tidak setuju dengan pemenang versi pemilihan juri. Tapi yah namanya juga sudah jadi keputusan.
Berikut penilaian film2 terbaik versi aku sendiri:
The One Minute MovieGokil, dalam waktu 1 menit cuma disuguhi hitungan maju selama satu menit, yah ditutup dengan pesan klise tapi begitulah
Lumpur Membawa PetakaDengan gaya South Park ala Indonesia, film ini sukses memperlihatkan sebuah wacana kritis dan serius dibalut dengan humor sarkas dan mengkritik tajam nilai2
superstition ataupun pandangan2 murahan.
Kapit 2Sebenarnya aku lebih tertawa dengan beberapa adegan dari episode 1-nya (dan terbukti saat Kapit 1 yang diputar jadi garing dan tidak lucu lagi). Tapi, bolehlah.
Tanggap Flu BurungDengan memakai Bajaj Bajuri sebagai pemainnya (lengkap dengan pemain2 asli yang ada di sitkom ini), film ini sukses mengkonversi sitkom asli menjadi sitkom animasi yang lucu sekaligus pesan yang disampaikannya tepat sasaran. Sayangnya yang ini ga menang, barangkali pemahaman penonton belum sampai kesitu.
The New Nitro (Ninja Katro) part 1The Gokilest Movie! Yang satu ini bener2 gila dan ancur abis! Memakai format
tokusatsu, dengan sedikit embel2 ninja ala Naruto, film ini berusaha mengobrak-abrik konvensi film
superhero dengan plot standar, menjadi sesuatu yang benar2 gokil abis. Liatlah cara berubahnya, ala Lionmaru (teknik gambar berubah2 gitu), trus jurus teleportasi yang nyasar kemana2, dan solusi praktis tapi memalukan dengan memakai ojek. Belum lagi, tidak perlu dialog2 langsung, cukup dengan
subtitle2 yang absurd. Dari segala sisi kegokilannya pantas diberi nilai sepuluh. Dan memang film ini yang jadi pemenang, sekaligus mendapat penghargaan khusus dari Komutoku.
Overall, aku puas dan tidak menyesal menonton acara ini. Penyesalan terbesarku adalah tidak banyak mengambil foto2 gara2 lupa mengisi batere henpon. Moga2 ada acara serupa lagi..............

.
Extra:
Oh ya, sebelum kami sampai di Balai Kartini, kami sempat bicara seseorang yang sudah agak berumur dan juga ingin ke sana (tapi bukan ke acara HelloFest, tapi ke klinik gigi gitu). Dia berkomentar cukup sinis bahwa budaya Jepang dihargai dan ditiru, sementara budaya sendiri ditinggalkan.
Sudahlah, Raymond Williams bilang: "Budaya itu adalah apa yang anda kerjakan". Jadi bodo amat nanggepin komentar sinis yang ga jelas dasarnya itu. Semua orang punya penilaian tersendiri terhadap budaya yang dilakukannya.